JAKARTA, IINC TIMES — Annisaa Putri Cahyani, atau Nisa, tumbuh dalam kondisi penuh tantangan sejak lahir. Ibunya pergi bekerja ke luar negeri dan keberadaannya tak diketahui, sementara ayahnya meninggal saat Nisa berusia lima tahun. Anak tunggal itu kemudian dibesarkan oleh nenek dan dua paman dalam keterbatasan; pamannya mendidik dengan ketat agar Nisa menjadi tangguh.
Sejak SD Nisa sudah menunjukkan daya juang: ia melukis kaligrafi Arab dan menjualnya untuk menabung biaya sekolah, sambil membantu nenek mengupas kulit lumpia dan berjualan arang. Ia menempuh perjalanan jauh berjalan kaki ke sekolah dan sering menghadapi cemoohan, namun memilih menahan diri dan tetap bekerja keras demi masa depan.
Ujian terbesar datang saat Ujian Kompetensi Keahlian, ketika Nisa tak punya laptop. Neneknya bangun dini hari mencari pinjaman perangkat tanpa hasil, sehingga Nisa mengikuti ujian lewat layar ponsel dengan nenek setia menemani dan mendoakan. Sebelum ujian, Nisa merawat neneknya sebagai bentuk bakti—sebuah simbol ketulusan yang kemudian berbuah manis.
Kerja keras Nisa terbayar pada usia 19 tahun ketika ia mendapat pekerjaan tetap, bahkan mengemban tiga pekerjaan demi kemandirian, serta mengikuti pelatihan di bidang geomatika, pertanahan, dan hukum. Meski ibunya kembali menuntut materi dan melontarkan cacian saat harapan itu tak dipenuhi, Nisa memilih diam dan berprasangka baik. Kini ia berdiri tegak atas usaha sendiri, berhasil mengangkat martabat nenek yang membesarkannya, dan membuktikan bahwa luka masa lalu tidak menentukan masa depan.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













