JAKARTA, IINC TIMES — Kemajuan sains sering diukur dari seberapa canggih teknologi yang mampu diciptakan manusia. Kita bangga dengan kecerdasan buatan, rekayasa genetika, obat-obatan modern, hingga kemampuan membaca proses kehidupan pada tingkat sel. Namun, ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting: untuk apa semua kemajuan itu?
Sains yang terus berkembang tetapi kehilangan arah dapat menjadi seperti pohon yang tumbuh tinggi tanpa akar yang kuat. Ia mungkin terlihat mengagumkan, tetapi mudah kehilangan pijakan. Karena itu, pengembangan sains seharusnya tidak hanya berbicara tentang seberapa jauh manusia dapat menemukan sesuatu, tetapi juga ke mana penemuan itu membawa kehidupan manusia.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika sains berhadapan dengan persoalan kesehatan. Diabetes, misalnya, bukan sekadar angka kadar gula dalam darah. Penyakit ini berkaitan dengan kualitas hidup, produktivitas, biaya pengobatan, dan masa depan jutaan manusia. Maka, pencarian terapi baru bukan hanya persoalan laboratorium, tetapi juga bagian dari ikhtiar menghadirkan kemaslahatan.
Di sinilah kekayaan hayati Indonesia memiliki ruang yang besar untuk dikaji. Salah satunya adalah tapak liman (Elephantopus scaber L.), tanaman yang telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional. Tanaman yang tumbuh di sekitar kita ternyata dapat menjadi pintu masuk bagi pertanyaan ilmiah yang lebih dalam: benarkah sesuatu yang sederhana di alam dapat memberikan kontribusi bagi persoalan kesehatan modern?
Pertanyaan tersebut kemudian membawa penelitian saya pada kajian aktivitas antidiabetes subfraksi aktif tapak liman. Penelitian tidak berhenti pada pertanyaan apakah tanaman tersebut memiliki potensi, tetapi mencoba memahami bagaimana senyawa aktifnya dapat memengaruhi proses yang berkaitan dengan kerja insulin pada tingkat sel.
Lebih jauh, penelitian semacam ini menunjukkan bahwa pengembangan sains tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang jauh dan rumit. Kadang-kadang, jawaban atas persoalan besar dapat ditemukan dari sesuatu yang tumbuh di sekitar kita. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan lokal tersebut diuji dengan metode ilmiah, dikembangkan dengan teknologi yang tepat, dan ditempatkan dalam kerangka yang bertanggung jawab.
Namun, di sinilah sains membutuhkan “akar”. Hasil penelitian laboratorium tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi klaim bahwa suatu tanaman dapat menyembuhkan diabetes. Temuan pada sel bukanlah bukti yang sama dengan keberhasilan pada manusia. Masih diperlukan tahapan penelitian, pengujian keamanan, pembuktian efektivitas, dan proses panjang sebelum sebuah kandidat dapat dikembangkan menjadi terapi.
Sikap hati-hati tersebut bukan penghambat kemajuan sains. Sebaliknya, kejujuran ilmiah adalah bagian dari etika. Dalam perspektif Islam, ilmu bukan sekadar alat untuk menguasai alam, tetapi amanah yang harus digunakan untuk menghadirkan kebaikan dan mencegah kemudaratan. Integrasi Islam dengan ilmu pengetahuan karena itu bukan berarti mencampurkan agama ke dalam setiap metode eksperimen, melainkan memberikan arah moral bagi penggunaan ilmu.
Penelitian tapak liman menjadi salah satu contoh bahwa pengembangan sains dapat dimulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan kita. Kekayaan alam lokal dapat diteliti dengan teknologi modern, sementara nilai-nilai Islam memberikan orientasi agar hasilnya tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diarahkan pada kemanfaatan manusia.
Pada akhirnya, peradaban tidak hanya dibangun oleh laboratorium yang canggih atau penemuan yang spektakuler. Peradaban dibangun ketika ilmu memiliki akar nilai dan arah kemanusiaan.
Sains boleh tumbuh setinggi mungkin. Teknologi boleh berkembang sejauh mungkin. Tetapi keduanya tetap membutuhkan akar: kejujuran, tanggung jawab, kemanfaatan, dan kemaslahatan.
Sebab sains tanpa akar dapat kehilangan arah, dan peradaban tanpa arah dapat kehilangan makna.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













