JAKARTA, IINC TIMES — Perjalanan panjang yang dilalui seseorang kerap membawa mereka pada titik puncak impian yang telah lama diidamkan. Bagi sebagian orang, keberhasilan mungkin terasa biasa saja. Namun, bagi Yonda Nugraha, setiap pencapaian adalah buah dari tekad membara untuk mengubah nasib dan mengangkat derajat orang tuanya.
Yonda tumbuh dan dibesarkan dari keluarga yang sangat sederhana. Orang tuanya berjuang mencari nafkah dengan berjualan sayur di pasar. Garis keterbatasan ini sebenarnya sudah melingkupi keluarganya sejak generasi kakek dan neneknya, yang dahulu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang pengusaha di desanya.
Namun, semangat untuk memperbaiki hidup diturunkan oleh ayahnya. Mengawali langkah sebagai kuli bangunan di berbagai proyek, sang ayah berjuang keras hingga berkat kegigihan dan bakatnya berhasil dipercaya menjadi site engineer di salah satu perusahaan BUMN, PT Waskita Karya. Sayangnya, perjalanan karir sang ayah harus terhenti akibat badai krisis moneter tahun 1998. Demi merawat kakek dan nenek Yonda di masa tua, sang ayah memilih meninggalkan karir yang telah dibangunnya dan kembali ke desa.
Di tengah lingkungan dan kondisi ekonomi yang penuh keterbatasan itu, Yonda tumbuh dalam tekanan. Ia kerap menjadi korban perundungan sejak sekolah dasar, diremehkan, hingga diragukan oleh orang-orang terdekatnya. Masa-masa menimba ilmu di pondok pesantren selepas lulus SD serta perkuliahan S1 di Universitas Tunas Pembangunan, Solo, memberinya banyak pelajaran hidup. Meski sempat kesulitan di awal kuliah hingga meraih nilai D dan E, Yonda memberanikan diri untuk magang di sebuah perusahaan arsitektur demi mengejar ketertinggalannya. Ia merelakan waktunya dari pagi hingga pagi untuk mengasah keahlian, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan studi S1 tepat waktu dalam empat tahun.
Perjuangannya memasuki babak baru ketika Yonda nekat merantau ke Bali dengan bekal seadanya. Di Pulau Dewata inilah titik balik kehidupannya dimulai. Ia bertemu dengan banyak relasi yang membuka pandangan, membagikan pengetahuan, serta memberikan pengalaman berharga. Pengalaman-pengalaman tersebut memicu niatnya untuk terus berkembang hingga akhirnya ia memutuskan melanjutkan studi Pendidikan Profesi Insinyur di Universitas Warmadewa pada akhir tahun 2025.
Di tengah padatnya jadwal kuliah, Yonda tetap menjalankan kewajibannya bekerja di sebuah biro arsitektur di Denpasar, sekaligus merintis studio arsitek independen bersama rekan-rekannya. "Kalau dibilang capek dan stres, ya tentu terasa. Namun, saya menikmati setiap prosesnya, walau terkadang harus sambil beristighfar," ungkap Yonda.
Buah manis dari ketabahannya akhirnya memetik hasil. Pada Agustus 2026, Yonda resmi dilantik bersama 83 wisudawan Pendidikan Profesi Insinyur. Ia meraih IPK 3,96 dengan predikat Pujian (Cum Laude) sekaligus dinobatkan sebagai salah satu lulusan terbaik. Dedikasi tanpa henti selama kurang lebih tujuh tahun di bidang arsitektur dan rekayasa ini resmi mengantarkan Yonda Nugraha mewujudkan mimpinya menjadi seorang Design Engineer profesional.
Kisah Yonda memberi kita pelajaran berharga bahwa keterbatasan latar belakang dan tajamnya cibiran bukanlah penghalang untuk melangkah jauh. Selama tekad terus dipelihara dan kerja keras konsisten dilakukan, takdir terbaik akan selalu menemukan jalannya.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













