JAKARTA, IINC TIMES — Tidak ada kesuksesan yang lahir dalam sekejap mata. Di balik sorot lampu panggung kemenangan dan kilau tropi internasional yang diraih Rajendra Pangarep di Malaysia, tersembunyi cerita panjang tentang ketekunan, tetesan keringat latihan, dan komitmen tanpa henti selama dua tahun penuh.
Pada 29 Agustus 2026, di tengah kepungan 1.300 lebih peserta dari 9 negara pada ajang 24th Long Yun Cup Abacus & Mental Arithmetic Championships 2026, bocah 8 tahun asal Yogyakarta ini berhasil membuktikan kelasnya. Rajendra membawa pulang Peringkat 4 National Group Malaysia dan Peringkat 5 Runner Up Elite Group Internasional.
Namun, nilai sejati dari piala tersebut terletak pada proses di balik layarnya
PROSES DI BALIK LAYAR: 4 KALI SEMINGGU, 2 JAM SEHARI
Dua tahun lalu, ketika anak-anak seusianya menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk bermain, Rajendra mulai melangkah ke dunia mental aritmetika bersama Sugaku Indonesia. Dibimbing oleh Teacher Rifqi, Mita, dan Naza, Rajendra menempa ketelitian serta daya tahan otaknya.
Memasuki fase persiapan akhir menuju kejuaraan di Malaysia, jadwal latihannya semakin diperketat: empat kali seminggu, durasi dua jam setiap sesi. Dalam durasi tersebut, fokusnya diuji hingga batas maksimal untuk menyelesaikan lembar demi lembar soal abacus dengan presisi mutlak tanpa boleh ada eror kecil sekalipun.
Rasa lelah dan jenuh tentu pernah datang, namun kedisiplinan dan kecintaan Rajendra pada dunia angka membuatnya terus bertahan.
"Kunci dari kesuksesan Rajendra bukan pada bakat instan, melainkan pada ketahanan mental dan ketekunan yang ia jalani hari demi hari selama dua tahun. Ia belajar bagaimana tetap tenang di bawah tekanan waktu," jelas tim pelatih Sugaku Indonesia.
CINTA KELUARGA DAN IMPIAN MASA DEPAN
Di belakang keteguhan Rajendra, ada dua sosok utama yang tak pernah lelah memberikan dorongan moral: kedua orang tuanya, Sandy dan Novi. Pendampingan yang sabar serta suasana keluarga yang hangat menjadi tempat Rajendra bersandar di kala lelah berlatih.
Bagi Sandy dan Novi, menyaksikan putra mereka yang duduk di kelas 3 Full English Program (FEP) Jubilee School Jakarta berdiri di podium internasional adalah momen emosional yang tak terbayarkan.
"Melihat perjuangannya secara langsung selama dua tahun dari nol, mengorbankan waktu bermain demi berlatih dengan disiplin, raihan ini adalah hadiah terbaik untuk kerja kerasnya," tutur Sandy dan Novi dengan haru.
Perjuangan dua tahun ini kini menjadi fondasi kokoh bagi Rajendra Pangarep dalam menatap cita-citanya menjadi seorang Software Engineer. Sebuah pengingat bagi kita semua bahwa proses yang setia tidak akan pernah mengkhianati hasil.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













