JAKARTA, IINC TIMES —
Pontianak — Bayangkan sebuah gelas minuman yang tidak harus berakhir di tempat sampah setelah digunakan. Gelas tersebut dapat langsung dikonsumsi, dan apabila tidak dimakan, dapat terurai secara alami. Konsep inilah yang dikembangkan lima mahasiswa Universitas Tanjungpura melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) melalui inovasi bernama SENGGACUP.
SENGGACUP merupakan inovasi edible dan biodegradable cup yang dikembangkan dengan memanfaatkan bahan lokal, yaitu tepung ganyong, glukomanan porang, agar rumput laut, ekstrak buah senggani (Melastoma malabathricum), serta lapisan beeswax food grade. Berbeda dari gelas minuman konvensional yang umumnya menjadi limbah setelah digunakan, SENGGACUP membawa konsep zero-waste packaging dengan menggabungkan fungsi kemasan dan potensi konsumsi dalam satu produk.
Produk bernama SENGGACUP ini digagas oleh tim yang beranggotakan Alven Julianto (Manajemen), Destyana Fauziah Utami (Manajemen), M. Dimas Adi Fadhillah (Manajemen), Muthiara Azzahra (Ilmu & Teknologi Pangan), dan Zainal Arifin (Kehutanan). Latar belakang keilmuan yang beragam ini menjadi kekuatan tersendiri: sisi manajemen mengawal strategi bisnis dan pemasaran, sisi ilmu pangan memastikan keamanan dan fungsi produk, sementara sisi kehutanan berperan dalam pemanfaatan bahan hayati secara berkelanjutan.
Mengubah Bahan Lokal Menjadi Kemasan Inovatif
Gagasan SENGGACUP berangkat dari persoalan penggunaan gelas plastik sekali pakai yang masih banyak ditemukan dalam aktivitas konsumsi minuman. Tim melihat persoalan tersebut bukan hanya sebagai tantangan lingkungan, tetapi juga sebagai peluang untuk menciptakan produk kemasan alternatif yang memiliki nilai ekonomi.
Bahan-bahan yang digunakan dipilih dengan mempertimbangkan potensi sumber daya hayati lokal. Tepung ganyong dan glukomanan porang menjadi bagian dari formulasi, sementara agar rumput laut digunakan sebagai salah satu komponen pembentuk struktur cup. Ekstrak buah senggani memberikan warna ungu alami sekaligus menjadi bagian dari karakteristik inovasi produk.
SENGGACUP juga menggunakan lapisan beeswax food grade sebagai pelindung untuk membantu meningkatkan ketahanan cup terhadap air dan panas.
Bukan Sekadar Cup, tetapi Memiliki Konsep Edible dan Biodegradable
Salah satu keunggulan utama SENGGACUP terletak pada konsep penggunaannya. Cup dapat dikonsumsi setelah digunakan untuk menikmati minuman. Apabila tidak dikonsumsi, produk dirancang untuk dapat terurai secara alami menjadi kompos.
Secara fisik, SENGGACUP dikembangkan dalam ukuran 14 oz dengan berat sekitar 30–40 gram dan ketebalan dinding 3–4 mm. Berdasarkan pengujian yang dilakukan tim, cup mampu bertahan pada minuman panas bersuhu 70–80°C selama 2–3 jam dan minuman dingin bersuhu 5–10°C selama 4–6 jam.
Karakteristik tersebut menjadi bagian penting dari pengembangan SENGGACUP agar inovasi kemasan tidak hanya menawarkan aspek keberlanjutan, tetapi juga tetap memiliki fungsi sebagai wadah minuman.
Pengembangan produk juga mencakup pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil pengujian yang dicatat tim menunjukkan aktivitas antioksidan sebesar 93,90%, yang menjadi salah satu karakteristik yang diangkat dalam pengembangan produk SENGGACUP.
Dari Inovasi Menjadi Produk yang Diuji di Pasar
SENGGACUP tidak berhenti pada tahap pengembangan produk. Tim kemudian membawa inovasi tersebut ke pasar melalui berbagai pendekatan pemasaran, mulai dari digital marketing, direct selling, bazar, hingga pengembangan kemitraan dengan pelaku usaha.
Strategi tersebut menghasilkan capaian penjualan yang cukup signifikan. Dari 1.800 unit yang diproduksi, sebanyak 1.711 unit berhasil terjual, dengan omzet mencapai Rp11.312.000 selama periode penjualan yang dilaporkan.
Perkembangan penjualan juga menunjukkan tren positif. Pada minggu pertama, penjualan tercatat sebanyak 120 unit. Setelah dilakukan penguatan strategi pemasaran digital, direct selling, kegiatan bazar, dan perluasan kemitraan, penjualan meningkat hingga mencapai 681 unit pada minggu keenam.
Skema bundling menjadi salah satu strategi yang paling berkontribusi terhadap penjualan. Sebanyak 1.330 unit atau sekitar 77,7% dari total unit terjual berasal dari penjualan bundling, sedangkan 381 unit atau sekitar 22,3% berasal dari penjualan satuan.
Dengan harga jual Rp7.000 per unit dan Harga Pokok Produksi (HPP) sekitar Rp4.167 per unit, tim mencatat laba bersih operasional sekitar Rp4.182.263. Sementara itu, titik impas atau Break Even Point (BEP) tercapai pada sekitar 593 unit dengan nilai sekitar Rp4.151.000.
Menyasar Coffee Shop hingga Konsumen Muda
Pengembangan SENGGACUP diarahkan pada dua segmen pasar. Pada segmen Business-toBusiness (B2B), produk ditujukan kepada coffee shop, UMKM kuliner, hotel, restoran, dan event organizer yang membutuhkan alternatif kemasan ramah lingkungan.
Sementara pada segmen Business-to-Consumer (B2C), SENGGACUP menyasar konsumen muda, khususnya Generasi Z dan Milenial yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan dan lingkungan.
Pemasaran dilakukan secara omnichannel melalui Instagram @senggacup.pkmk, official store Shopee, direct selling, Car Free Day, bazar kampus, workshop kewirausahaan, hingga pameran ekonomi kreatif.
Mengembangkan Inovasi Bersama Lintas Disiplin
SENGGACUP dikembangkan oleh lima mahasiswa dengan latar belakang keilmuan yang berbeda, yaitu Alven Julianto, Destyana Fauziah Utami, M. Dimas Adi Fadhillah, Muthiara Azzahra, dan Zainal Arifin.
Keberagaman tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan SENGGACUP. Mahasiswa bidang manajemen berfokus pada strategi bisnis dan pemasaran, mahasiswa ilmu dan teknologi pangan berperan dalam aspek pengembangan produk dan pangan, sementara bidang kehutanan mendukung perspektif pemanfaatan bahan hayati secara berkelanjutan.
Kolaborasi lintas disiplin tersebut memungkinkan SENGGACUP dikembangkan tidak hanya sebagai sebuah produk, tetapi juga sebagai model usaha yang menggabungkan inovasi pangan, kemasan berkelanjutan, pemanfaatan bahan lokal, dan kewirausahaan mahasiswa.
Membangun Ekosistem Pasar dan Kemitraan
Dalam proses pengembangan usaha, tim juga membangun jaringan kemitraan dengan berbagai pihak, di antaranya Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kubu Raya serta sejumlah pelaku usaha F&B seperti Temu Sapa, Saca Coffee, RBK Cafe, dan Reposidi Coffee Shop.
Kemitraan tersebut menjadi bagian dari upaya tim untuk memperkenalkan SENGGACUP kepada calon pengguna sekaligus memperoleh masukan mengenai kebutuhan pasar dan pengembangan produk.
Di sisi digital, akun Instagram @senggacup.pkmk digunakan sebagai salah satu media utama untuk membangun brand awareness dan mendokumentasikan perjalanan pengembangan program. Hingga laporan kemajuan disusun, akun tersebut tercatat memiliki 1.071 pengikut, 42 unggahan, dan total 38.790 tayangan.
Dari Persoalan Lingkungan Menjadi Peluang Bisnis
Bagi tim SENGGACUP, inovasi kemasan berkelanjutan tidak hanya berbicara mengenai pengurangan sampah plastik. Lebih jauh, inovasi ini menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat diterjemahkan menjadi peluang untuk menciptakan produk baru yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Pemanfaatan ganyong, porang, rumput laut, dan senggani menunjukkan bahwa bahan hayati dapat dikembangkan menjadi produk dengan bentuk dan fungsi yang berbeda dari pemanfaatan konvensionalnya.
Dengan capaian sekitar 95% dari target luaran program yang direncanakan, tim kini mempersiapkan tahap pengembangan berikutnya. Peningkatan kapasitas produksi, penyempurnaan formulasi, pengembangan variasi ukuran, serta perluasan kerja sama dengan coffee shop, UMKM kuliner, hotel, restoran, dan event organizer menjadi bagian dari agenda lanjutan SENGGACUP.
SENGGACUP pada akhirnya membawa sebuah gagasan sederhana: kemasan minuman tidak harus berakhir sebagai sampah. Melalui perpaduan bahan lokal, inovasi pangan, dan pendekatan kewirausahaan, lima mahasiswa Universitas Tanjungpura mencoba menghadirkan alternatif kemasan yang dapat dinikmati sekaligus lebih selaras dengan konsep keberlanjutan.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













