JAKARTA, IINC TIMES — Permasalahan anemia defisiensi besi pada remaja masih menjadi salah satu tantangan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI (2024), sekitar 32% remaja berusia 15–24 tahun mengalami anemia, dengan prevalensi yang lebih tinggi pada kelompok remaja putri. Upaya pemerintah melalui program Tablet Tambah Darah (TTD) juga masih menghadapi kendala, terutama rendahnya kepatuhan konsumsi akibat munculnya efek samping seperti mual, rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan, hingga konstipasi.
Melihat permasalahan tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Padjadjaran mengembangkan inovasi berupa transdermal patch berbasis BIO-IONPs (Biosynthesized Iron Oxide Nanoparticles) yang memanfaatkan ekstrak kulit buah naga merah (Selenicereus monacanthus) sebagai bahan dasar sintesis nanopartikel zat besi. Inovasi ini dirancang sebagai alternatif sistem penghantaran zat besi yang lebih nyaman karena memungkinkan zat aktif masuk melalui kulit secara langsung menuju sirkulasi sistemik tanpa melewati saluran pencernaan.
Penelitian ini dikembangkan oleh lima mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas
Padjadjaran, yaitu Salma Aqila Purba sebagai ketua tim bersama Graciella Beauty Samosir, Evonne Gracecia, Felicia Evelyn Chandra, dan Shierly Saputra, dengan bimbingan apt. Patihul Husni, M.Si., Ph.D. Melalui pendekatan nanoteknologi dan prinsip green synthesis, tim berupaya menghasilkan nanopartikel zat besi yang memiliki karakteristik lebih biokompatibel serta berpotensi digunakan dalam sistem penghantaran transdermal.
Salah satu keunggulan utama penelitian ini adalah pemanfaatan kulit buah naga merah yang selama ini masih menjadi limbah agroindustri. Bagian kulit tersebut diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti betasianin, flavonoid, polifenol, dan vitamin C yang berperan dalam proses pembentukan nanopartikel sebagai agen pereduksi dan penstabil alami. Dengan proporsi kulit mencapai sekitar 30–35% dari berat buah serta produksi buah naga merah nasional yang mencapai ±2,76 juta kuintal pada tahun 2024, bahan baku ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Pengembangan BIO-IONPs melalui metode sintesis ramah lingkungan diharapkan mampu menjawab tantangan dalam pemanfaatan zat besi melalui kulit, terutama terkait keterbatasan penetrasi zat aktif.
Dalam penelitian ini, tahapan yang dilakukan meliputi sintesis BIO-IONPs menggunakan variasi konsentrasi prekursor besi, karakterisasi nanopartikel melalui Scanning Electron Microscope (SEM) dan Particle Size Analyzer (PSA), formulasi transdermal patch, hingga evaluasi pelepasan zat besi secara in vitro. Selain menawarkan inovasi di bidang teknologi farmasi, penelitian ini juga mendukung penerapan prinsip keberlanjutan. Pemanfaatan limbah kulit buah naga merah menjadi material kesehatan sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 mengenai peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat serta SDG 12 terkait konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Melalui penelitian ini, tim menargetkan luaran berupa publikasi artikel ilmiah pada Jurnal Medika Cendikia terakreditasi Sinta 4 serta penyebarluasan informasi melalui media sosial resmi @bionpatch di Instagram dan TikTok. Tim berharap inovasi BIO-IONPs transdermal patch dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan sistem penghantaran zat besi yang efektif, praktis, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya alam Indonesia dalam bidang teknologi kesehatan.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













