JAKARTA, IINC TIMES — Menempuh pendidikan doktor bukan sekadar persoalan ruang kuliah, penelitian, dan tugas akademik. Bagi pasangan dosen Farmasi, apt. Fendy Prasetyawan, S.Farm., M.Farm. dan apt. Yuneka Saristiana, S.Farm., M.Farm., perjalanan menuju gelar doktor juga menjadi perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan, pengorbanan waktu, dan komitmen yang kuat.
Keduanya tinggal di Trenggalek dan menjalankan tugas sebagai dosen di Universitas Kadiri, Kota Kediri. Setiap hari, perjalanan menuju tempat kerja harus ditempuh sekitar dua jam, demikian pula perjalanan pulang. Dalam satu hari, sekitar empat jam waktu dihabiskan di perjalanan.
Rutinitas tersebut telah menjadi bagian dari keseharian mereka. Ketika sebagian orang mungkin memandang perjalanan jauh sebagai hambatan, bagi Fendy dan Yuneka, jarak justru menjadi bagian dari perjuangan dalam menjalankan amanah sebagai pendidik sekaligus mewujudkan cita-cita akademik.
Di tengah kesibukan mengajar dan menjalankan berbagai tanggung jawab sebagai dosen, keduanya juga memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Doktor Farmasi di Universitas Islam Indonesia (UII).
Keputusan tersebut bukanlah langkah sederhana. Pendidikan doktor menuntut waktu untuk membaca literatur, melakukan penelitian, berdiskusi dengan promotor, menyusun karya ilmiah, hingga menyelesaikan berbagai tahapan akademik. Semua itu harus berjalan berdampingan dengan kewajiban mengajar dan kehidupan keluarga. Namun, perjalanan panjang tersebut justru mereka jalani bersama.
Menjadikan Perjalanan sebagai Bagian dari Perjuangan
Perjalanan Trenggalek–Kediri yang memakan waktu sekitar dua jam sekali jalan menjadi rutinitas yang harus dijalani. Pagi hari dimulai dengan persiapan menuju Kediri untuk menjalankan tugas sebagai dosen. Setelah aktivitas akademik selesai, perjalanan kembali ke Trenggalek masih menanti.
Bagi pasangan ini, perjalanan tersebut bukan hanya tentang jarak geografis. Di baliknya terdapat proses membangun konsistensi dan disiplin.
Menjadi dosen berarti memiliki tanggung jawab untuk mengajar dan mendampingi mahasiswa. Sementara pendidikan doktor menuntut mereka untuk terus mengembangkan kapasitas sebagai akademisi dan peneliti.
Dua tanggung jawab tersebut berjalan secara bersamaan
Mereka menyadari bahwa menjadi seorang dosen tidak cukup hanya dengan menyampaikan ilmu di ruang kelas. Seorang pendidik juga perlu terus belajar, melakukan penelitian, menghasilkan karya ilmiah, dan mengembangkan keilmuan sesuai bidangnya.
Karena itu, pendidikan doktor dipandang bukan semata-mata sebagai pencapaian gelar akademik, melainkan sebagai bagian dari proses meningkatkan kompetensi dan kontribusi dalam bidang Farmasi.
Belajar dan Berjuang Bersama
Salah satu hal yang membuat perjalanan ini menjadi berbeda adalah karena Fendy dan Yuneka menjalaninya sebagai pasangan.
Ketika salah satu menghadapi kesibukan akademik, yang lain memahami. Ketika penelitian membutuhkan waktu dan perhatian lebih, keduanya dapat saling mendukung. Begitu pula ketika pekerjaan sebagai dosen harus tetap dijalankan.
Menempuh pendidikan doktor bersama menghadirkan tantangan sekaligus kekuatan tersendiri.
Ada target akademik yang harus dicapai, pekerjaan yang harus diselesaikan, mahasiswa yang harus didampingi, penelitian yang harus dikembangkan, serta keluarga yang tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Semua harus dikelola secara seimbang.
Perjalanan tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi perjalanan akademik masing-masing individu, tetapi menjadi perjalanan bersama sebuah keluarga untuk terus berkembang dan memberikan manfaat melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Dari Trenggalek untuk Pengembangan Ilmu Farmasi
Pilihan untuk menempuh pendidikan Doktor Farmasi di UII juga menjadi bagian dari upaya keduanya untuk memperkuat kapasitas akademik dan penelitian.
Dengan latar belakang sebagai apoteker, magister Farmasi, dan dosen, pendidikan doktor diharapkan dapat membuka ruang yang lebih luas untuk mengembangkan penelitian serta memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu Farmasi.
Bagi seorang dosen, proses belajar tidak pernah benar-benar berhenti.
Ruang kelas, laboratorium, perjalanan menuju kampus, hingga ruang penelitian semuanya menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Fendy dan Yuneka memilih untuk terus menjalani proses tersebut meskipun harus berhadapan dengan jarak dan keterbatasan waktu.
Empat Jam yang Mengajarkan Ketekunan
Empat jam perjalanan setiap hari mungkin terdengar melelahkan. Namun, jika dilihat lebih jauh, empat jam tersebut menjadi simbol dari sebuah pilihan: bahwa tujuan yang besar sering kali membutuhkan perjalanan yang panjang.
Trenggalek menjadi tempat mereka tinggal dan membangun keluarga. Kediri menjadi tempat mereka mengabdi sebagai dosen. Sementara Yogyakarta menjadi bagian dari perjalanan akademik untuk menempuh pendidikan doktor.
Tiga tempat tersebut kemudian menjadi bagian dari satu perjalanan yang sama.
Perjalanan Fendy dan Yuneka menunjukkan bahwa keterbatasan jarak tidak selalu menjadi penghalang untuk berkembang. Dengan komitmen, dukungan keluarga, dan semangat untuk terus belajar, perjalanan yang panjang dapat menjadi bagian dari proses menuju tujuan yang lebih besar.
Bagi mereka, menjadi doktor bukanlah sekadar tentang memperoleh gelar akademik di belakang nama. Lebih dari itu, perjalanan ini adalah tentang menjadi pendidik yang terus belajar, peneliti yang terus berkembang, dan insan akademik yang dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi ilmu Farmasi dan masyarakat.
Empat jam di jalan setiap hari mungkin melelahkan. Tetapi ketika tujuan yang ingin dicapai memiliki makna, perjalanan panjang pun menjadi layak untuk diperjuangkan.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













