JAKARTA, IINC TIMES — Ada yang aneh dan menyentuh tentang cara petani Amerika Serikat saat ini. Mereka terjepit dari semua sisi: biaya benih naik, upah pekerja meningkat tajam, harga solar naik karena perang di Timur Tengah, dan pasar ekspor kedelai sudah lenyap karena perang dagang dengan Tiongkok. Namun, sebaliknya, dukungan mereka terhadap Donald Trump tetap ada, bahkan semakin meningkat. Petani di Amerika Serikat saat ini sedang menghadapi tekanan yang semakin berat dan berdampak pada kelangsungan usaha mereka.Meski kondisi semakin sulit, mayoritas petani di daerah pedesaan masih setia mendukung Presiden Donald Trump.Tekanan pertama datang dari kenaikan biaya produksi yang sangat drastis. Dalam beberapa tahun terakhir, harga benih, upah pekerja, dan bunga pinjaman telah naik dengan sangat tinggi. Situasi jadi lebih buruk karena kebijakan tarif yang diterapkan oleh pemerintahan Donald Trump. Kenaikan harga baja dan aluminium menyebabkan harga alat pertanian seperti traktor dan sprayer naik secara signifikan.Harga lahan juga naik hingga 6% dalam lima tahun terakhir, yang semakin meningkatkan beban modal di awal.Selain itu, harga benih tanaman juga naik sekitar 18%, yang sangat berpengaruh pada biaya produksi di lahan. Biaya upah pekerja juga meningkat sekitar 50%, hal ini juga membuat para petani mengalami kerugian. Akibatnya, banyak petani sekarang membutuhkan lahan yang hingga empat kali lebih besar agar bisa mendapatkan keuntungan yang sama seperti dulu. Bertani kini semakin sulit dicapai, terutama bagi generasi muda. Selain harga yang semakin naik, petani juga kehilangan tempat untuk menjual hasil pertaniannya karena adanya perang dagang. Negara-negara yang bekerja sama dalam perdagangan merespons kebijakan tarif Amerika Serikat dengan cara memberikan balasan dalam hal ekspor dan impor. Salah satu dampak terbesar terjadi ketika Tiongkok menghentikan impor kedelai dari Amerika Serikat.Hal ini membuat Amerika kehilangan pasar ekspor utamanya.Penurunan ekspor yang sangat drastis terjadi karena Tiongkok menghentikan impor kedelai ke negaranya, yang sebelumnya mencapai sekitar 5,9 juta ton, kini menjadi nol.Akibatnya, para petani di Amerika Serikat mengalami penurunan pendapatan. Kenaikan harga di sektor pertanian Amerika Serikat menyebabkan daya saing menurun dan kemungkinan berkurangnya minat orang terhadap sektor pertanian di sana. Secara umum, sektor pertanian menjadi industri yang paling terkena dampak oleh kebijakan retaliasi. Kenaikan tarif membuat harga produk pertanian Amerika Serikat kurang menarik untuk dibeli di pasar dunia, dibandingkan produk dari sektor lain seperti elektronik dan kimia.
Selain perang dagang dengan Tiongkok, perang Amerika dengan Iran yang mengganggu operasional di Selat Hormuz juga memperparah beban pertanian. Ini menyebabkan kenaikan harga bahan bakar diesel sebesar 40%.Hal ini memengaruhi biaya operasional pertanian.Untuk mengangkut hasil pertanian ke tengkulak, juga diperlukan bahan bakar.Jika harga bahan bakar terus naik, para petani di AS juga merasa tertekan dan terus mencari solusi agar tidak mengurangi hasil produksi pertanian mereka. Harga bensin diesel saat ini adalah 5,40 dolar Amerika per gallon, jika dikonversi ke rupiah maka harganya mencapai 95.725. Kenaikan harga karena tambahan bahan bakar ini langsung mengurangi keuntungan petani secara besar-besaran, bahkan untuk pupuk pun harganya naik cukup tinggi sekitar 33% secara global. Petani di Amerika Serikat sedang berusaha mengatasi biaya pengelolaan pertanian, seperti penggunaan pupuk yang berkurang, tetapi hal ini bisa menyebabkan hasil panen menurun. Banyak tekanan datang dari berbagai sisi, sehingga sebagian petani yang kehilangan semangat akhirnya memutuskan untuk berakhir hidupnya. Banyak petani juga akhirnya bangkrut karena harga lahan, benih, dan bahan bakar diesel yang naik tinggi.
Krisis ini tidak hanya memengaruhi petani, tetapi juga berdampak ke berbagai sektor ekonomi di pedesaan. Meskipun hanya sekitar 6% penduduk pedesaan yang bekerja sebagai petani, sektor pertanian tetap menjadi dasar bagi berbagai usaha lokal, seperti pabrik pengolahan, perbankan, dan toko ritel. Ketika para petani mengalami kesulitan, maka kegiatan ekonomi di daerah setempat juga akan terasa terganggu. Banyak keluarga di daerah pedesaan saat ini merasa kesulitan secara finansial, bahkan sulit memenuhi kebutuhan yang mendesak. Survei yang dilakukan oleh YouGov dan The Economist menunjukkan bahwa 27% penduduk di daerah pedesaan Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka tidak bisa membayar biaya mendadak sebesar 1.000 dolar Amerika Serikat. Meskipun tekanan ekonomi terus meningkat, banyak petani di Amerika Serikat masih menunjukkan dukungan yang kuat kepada Presiden Donald Trump. Survei menunjukkan bahwa tingkat kepuasan terhadap Trump tertinggi di antara pemilih pedesaan dibandingkan kelompok pemilih lainnya. Meski masih percaya pada pemerintah, para petani dan pihak pendukung mereka tetap meminta tindakan nyata yang bisa meringankan tekanan terhadap pertanian AS.
Meski masih percaya pada pemerintah, para petani dan pihak yang mendukung petani tetap meminta langkah nyata yang mampu meringankan beban para petani Amerika, seperti melebarkan aturan bahan bakar untuk menekan biaya operasional khususnya bahan bakar diesel, pemberian bantuan yang meminta pemerintah membantu menutup kerugian akibat kebijakan perdagangan dan konflik global, mendorong kebijakan pemerintah agar para petani memperoleh pelonggaran regulasi dan tambahan bantuan untuk sektor pertanian serta peningkatan subsidi pertanian (Farm Bill). Di balik itu, para petani merasakan sebuah dilema. Mereka sebenarnya tidak ingin meminta bantuan pemerintah, tapi tekanan ekonomi mengharuskan mereka menerima subsidi tetap. Kehidupan di pedesaan yang sudah lama menghadapi ketidakpastian justru membentuk kekuatan dan harapan yang baik. Bagi banyak petani, bertani bukan hanya tentang untung atau rugi, tapi merupakan cara hidup yang sulit untuk ditinggalkan.
Menurut saya, ini bukan hanya tentang tidak tahu politik saja. Ini tentang identitas, bertani di Amerika bukan cuma pekerjaan, tapi juga warisan dan gaya hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Saat seseorang sudah menghabiskan separuh hidupnya di atas satu tanah, ia biasanya mencari alasan untuk tetap percaya pada sistem yang mengatur hidupnya, daripada mengakui bahwa kebijakan yang ia dukung justru menjadi penyebab lukanya sendiri. Yang lebih menyedihkan, dampaknya tidak hanya terjadi di lapangan. Ekonomi di daerah pedesaan sedang turun perlahan; hampir tiga puluh tiga persen penduduk pedesaan mengatakan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan mendadak senilai seribu dolar. Angka ini seharusnya menjadi peringatan serius, bukan hanya angka dalam survei.
Menurut saya, ada ironi yang lebih dalam lagi jika kita melihat siapa sebenarnya yang harus menerima dampak dari perang dagang dan konflik geopolitik ini. Kebijakan tarif sering dikatakan sebagai cara untuk melindungi industri dalam negeri, namun di lapangan, sektor pertanian justru yang paling terkena dampak ketika negara-negara mitra dagang melakukan pembalasan. China tidak menyerang pabrik baja atau perusahaan teknologi Amerika, tetapi langsung memutus impor kedelai.Komoditas ini selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi di pedesaan. Ini menunjukkan betapa lemahnya posisi petani dalam peta kekuatan ekonomi dunia, serta betapa sedikit perlindungan yang mereka dapatkan ketika keputusan besar dibuat di meja perundingan yang jauh dari tempat mereka bekerja.Masalah yang lebih serius daripada fluktuasi harga tahun ini adalah proses penggantian petani yang terus-menerus. Sekarang, luas lahan yang dibutuhkan untuk mendapatkan keuntungan yang sama sudah empat kali lebih besar dibandingkan sebelumnya, maka generasi muda pasti akan mempertimbangkan lagi apakah akan melanjutkan usaha keluarga itu. Pertanian berubah dari sesuatu yang dibanggakan menjadi beban keuangan yang sulit dibenarkan secara logis. Jika tren ini terus berlanjut, tidak mustahil dalam satu atau dua dekade mendatang, Amerika Serikat kehilangan basis petani mandiri dan beralih sepenuhnya ke sistem pertanian berbasis korporasi dengan skala besar, yang pasti mengubah secara signifikan kehidupan masyarakat pedesaan dalam hal sosial dan ekonomi.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













