JAKARTA, IINC TIMES — Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai lebih dari 5 persen pada 2026, dengan realisasi 5,45 persen pada semester I tahun ini. Di sisi lain, data menunjukkan puluhan juta warga masih berada dalam kondisi rentan miskin dan ketimpangan pendapatan cenderung melebar, terutama di wilayah perkotaan.
Sektor informal menyerap sekitar 59 persen dari total tenaga kerja Indonesia. Pekerjaan di sektor ini umumnya tidak dilengkapi jaminan sosial, memiliki upah relatif rendah, dan pendapatan yang tidak pasti. Garis kemiskinan nasional per Maret 2026 tercatat naik 4,33 persen menjadi Rp669.235 per kapita per bulan, mencerminkan peningkatan biaya hidup dasar yang memengaruhi rumah tangga berpenghasilan rendah.
Transformasi digital juga menunjukkan dua sisi berbeda. Nilai transaksi digital Indonesia mencapai Rp1.600 triliun, namun peringkat daya saing digital dunia Indonesia turun dari ke-43 menjadi ke-51. Kesenjangan infrastruktur dan literasi digital antara Jawa dan luar Jawa, serta antara perkotaan dan perdesaan, masih terlihat. Data 2025 mencatat kepemilikan komputer di perkotaan sebesar 26,49 persen, sedangkan di perdesaan hanya 10,42 persen.
Penurunan angka kemiskinan tercatat sebesar 430 ribu jiwa dalam enam bulan pertama 2026. Namun, ratusan ribu orang yang keluar dari kategori miskin terancam tidak lagi menerima bantuan sosial karena dianggap sudah mampu. Pemerintah mengalokasikan anggaran perlindungan sosial sebesar Rp504,7 triliun untuk program-program terkait.
Kebijakan yang dijalankan pemerintah mencakup pemberian bantuan pangan dan insentif pajak untuk menjaga daya beli masyarakat. Program percepatan penurunan kemiskinan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian dari RPJMN 2025–2029. Integrasi ekonomi digital melalui Digital Economy Framework Agreement (DEFA) juga disiapkan untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat regional.
Indikator makro ekonomi menunjukkan pertumbuhan positif, sementara sejumlah tantangan sosial seperti ketimpangan, kerentanan pekerja informal, dan kesenjangan digital masih tercatat dalam data resmi.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













