LIVE MARKET --:--:--
Memuat data pasar & olahraga...
FLASH INFO
IINC Times: Portal Media Berita Siber Terbuka & Inklusif • Menyajikan Analisis Mendalam, Opini Kritis Mahasiswa, Inovasi Kampus, serta Kabar Pilihan Nusantara & Dunia Terkini
Sub-Kanal:

Berita Utama & Terkini

Kabar Pilihan Lainnya

Kabar Olahraga & Hiburan Pilihan

Semua Berita Terbit (Arsip Publikasi)

Tampilkan:
Halaman 1 dari 1 (0 Data)
Home > Fiksiana - Cerpen
Fiksiana - Cerpen

DI BALIK PELUH DAN AIR MATA

Tayang: 29 September 2026 17:32 WIB
👁 6.347 Views
Penulis: Dian Sastra Pratama Sinaga  |  Editor: Wirtanto

Hai namaku Dhea Cantika si anak gadis yang orang-orang bilang ‘eh kamu kok pendiam banget sih, Dhea jangan diam saja ih’, ya aku memang pendiam, apalagi dengan orang-orang baru. Kedua orang tuaku bekerja sebagai petani, penghasilan mereka bisa mencukupi kehidupan kami sehari-hari.

“Kak, kembalilah ke pondok, sudah terlalu panas dilaur sana!” teriak bapak memintaku untuk berhenti bekerja. Bapak dan ibu selalu memanggilku dengan sebutan kak, mungkin karena aku anak pertama. Saat ini kami sedang bekerja di kebun mencabut rumput-rumput yang tumbuh disela-sela pohon tomat yang baru kami tanam.

“Iya pak sebentar lagi, aku masih membantu ibu mencabut rumput ini” Jawabku berteriak karena jarak pondok relatif jauh.

“Bu istirahat dulu, mataharinya sudah semakin panas ini, pasti ibu juga haus kan”

“Iya sebentar lagi, kamu pergi saja dulu”

Aku melangkah meninggalkan ibu dan pergi ke pondok bersama bapak. Ibu memang selalu seperti itu, tidak bisa diam apalagi jika sedang di kebun. Jika aku paksa pun itu akan sia-sia, bahkan aku bisa dimarahi karena mengganggu pekerjaan ibu. Ibu lebih suka pergi ke kebun untuk bekerja daripada hanya berdiam diri di rumah. Sesampainya di pondok aku langsung meminum air putih yang kami bawa dari rumah. Rasanya sangat menyegarkan, apalagi karena cuaca saat ini sedang panas sekali. Saat ini sedang musim kemarau. Semua tanaman terlihat tidak segar karena kekurangan air. Kami di kebun juga harus menyirami tanaman kami supaya tidak gosong kemudian mati terbakar matahari.

“Panas sekali ya kak hari ini, semua tanaman kita sudah hampir layu” Bapak tiba-tiba berada disamping-Ku berdiri memandangi kebun yang gersang itu. Aku menoleh melihat bapak yang terlihat sedikit murung.

“Tidak papa pak, namanya juga lagi musim kemarau, sore nanti semua tanaman ini bisa kita siram agar tidak layu”

“Iya tapi tetap saja, disiram dengan air biasa dan air hujan itu berbeda” Aku terdiam tidak tahu ingin menjawab apa. Dalam beberapa menit kami hanya diam memandangi kebun yang terlihat gersang itu.

“Sebentar lagi pembayaran uang tahunan adikmu, dan kamu juga masuk tahun ajaran baru. Berapa uang kuliahmu?”

“Dua juta tiga ratus pak”

“Uang kuliah dua juta tiga ratus, biaya uang kamarmu empat juta lima ratus, biaya tahunan sekolah adikmu satu juta dan uang bulanan kalian lagi, setidaknya bapak harus menyiapkan uang sebanyak sepuluh juta”

“Tapi tidak usahlah kamu pikirkan itu, uang itu pasti akan ada nanti. Bapak dan ibu akan usahakan asalkan kalian rajin belajar dan mencapai cita-cita kalian”

“Iya pak”

Ibu datang menghampiri kami berdua yang sedang mengobrol. Dengan keadaan bercucuran peluh, ibu mengambil air dan segara meminumnya. Karena sudah menunjukkan waktu makan siang akhirnya kami pun makan siang dengan lahap. Makan di kebun memiliki kenikmatan tersendiri. Rasa makanan akan menjadi lebih enak jika dimakan di kebun. Setelah makan siang kami beristirahat terlebih dahulu kemudian kembali bekerja hingga sore tiba. Ketika sudah menunjukkan pukul enam sore dan kami pun sudah selesai menyirami semua tanaman, kami pulang ke rumah menggunakan motor Revo bapak. Jarak rumah dan kebun itu lumayan jauh, jadi akan lama sampainya jika berjalan kaki. Bisanya setiap ke ladang kami akan bonceng tiga, jika adikku tidak ikut. Jika adikku ikut ke kebun, bapak akan mengantar adikku dan aku terlebih dahulu kemudian menjemput ibu.

Dimalam harinya bapak, ibu, dan aku berbincang-bincang diruang tamu. Sambil merokok dan meminim minuman keras yang dikampung ini kami menyebutnya tuak, bapak menceritakan masa lalunya ketika bapak masih kecil. Bapak mengatakan kalau dulu ketika sekolah ia hanya membawa keresek pengganti tas, jalan kesekolahpun sangat rusak dan harus menyeberangi sungai. Tapi meskipun demikian bapak sangat bersemangat sekolah. Bapak selalu menjadi peringkat pertama disekolahnya. Namun bapak harus putus sekolah karena tidak ada biaya. Bapak harus memikirkan delapan saudaranya yang lain jadi harus bekerja untuk mereka.

“Makanya kak, kamu dan adikmu harus rajin belajar, supaya tidak seperti bapak ini. Kamu sudah merasakan kan betapa lelahnya di kebun. Jika bukan karena kamu dan adik bapak dan mamak tidak perlu bekerja sekeras ini. Tapi tidak usah kamu pikiran tentang uang, bapak dan mamak pasti akan usahakan semua yang kalian butuh”

“Iya pak, aku paham” jawabku sambil tertunduk

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kami. Aku berdiri dan membukanya, terlihat dua orang yang bertubuh tinggi yang mirip dengan bapak. Ternyata pamanku, saudara bapak yang kedua dan ketiga. Aku mempersilahkan paman masuk. Bapak memintaku untuk mengambil dua gelas lagi untuk paman. Kemudian salah satu pamanku pergi entah ke mana. Biar kutebak paman pasti pergi membeli minuman itu. Dan benar saja paman kembali dengan dua bungkusan besar ditangannya. Dituangkannya minuman itu kemudian mereka mengobrol lagi. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Aku meninggalkan mereka melangkah pergi ke kamar yang masih berbincang-bincang. Sebenarnya aku sangat khawatir jika mereka sudah melakukan kegiatan malam itu. Meminum alkohol serta berbincang-bincang hal-hal yang menurutku tidak penting. Paman dan bapakku benar-benar keras kepala, jika mereka mengeluarkan pendapat, pendapat mereka haruslah yang utama dan tidak ada satu pun yang mengalah. Bapak selalu menganggap dirinya tidak dihargai oleh saudara-seudarnya. Hal itulah yang selalu jadi perdebatan di keluarga kami. Bapak dan ibu sering bertengkar hanya karena masalah sepele itu. Aku merasa sangat lelah dan tertidur. Ketika aku sudah terlelap ibu membangunkanku sambil berlinang air mata.

”Kak, bangun kak” Karena aku masih mengantuk, aku membalikkan badan seakan tidak mau bangun dari tempat tidur yang nyaman itu.

“Dhea ayo bangun, kita pergi dari rumah ini” ibu sedikit berteriak padaku, tiba-tiba rasa kantukku mengilang, barulah aku menyadari ibu sedang menangis. Aku juga mendengar suara motor bapak yang melaju sangat cepat seakan bapak sedang cosplay seperti pembalap racing.  Aku yang masih terheran-heran mencoba menenangkan ibu.

“Ibu tenanglah, apa yang sebenarnya terjadi” Tanyaku khawatir sambil memeluk ibu. Ibu tidak menjawab mencoba menahan air matanya.

“Tidak apa-apa Bu, ceritakan padaku” ibuku memang seperti itu, Dia tidak mau anak-anaknya ikut memikirkan masalah keluarga. Ibu juga pendiam, mungkin itu sebabnya aku juga memiliki sikap ibu yang pendiam dan bapak yang keras kepala. Sepertinya aku tahu apa yang sedang terjadi, aku yakin ini berkaitan dengan keluarga bapak.

Sambil menahan air matanya ibu kemudian bercerita apa yang terjadi.

“Ibu tidak ingin menceritakan ini padamu, tapi ibu sudah tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi. Ibu sangat lelah menghadapi bapakmu yang sangat keras kepala.” Aku masih diam mendengarkan ibu dengan seksama. Aku juga tidak kuat melihat ibu menangis seperti itu. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipiku. Aku mengusap air mata itu berpura-pura kuat didepan ibu. Kemudian ibu melanjutkan ceritanya

“Tadi kedua pamanmu datang meminjam uang, mereka mengatakan mereka sangat membutuhkan uang itu untuk usaha toko pamanmu. Bapakmu langsung memberikannya tanpa bertanya pada ibu terlebih dahulu”

“Lalu apa masalahnya Bu? Apa ibu marah karena bapak memberikan uang itu kepada paman?”

“Tidak Dhea” Ibu diam sejenak sambil mengusap air matanya yang terus bercucuran

“Ibu tidak marah karena ayahmu memberikan uang itu, tapi ibu merasa sangat bersedih bapakmu memberikannya tanpa berdiskusi dengan ibu terlebih dahulu. Bapakmu selalu saja begitu, untuk keluarganya dia akan memerikan apa pun tanpa memikirkannya dua kali. Tapi jika keluarga ibu yang membutuhkan setidaknya sedikit, bapakmu akan langsung marah pada ibu dan mengatakan semua kebutuhan kalian”

“Lalu ke mana bapak pergi Bu? Apa yang ibu katakan kepada bapak?”

“Ibu terlalu berkecil hati sehingga mengabaikan pertanyaan bapak, bapak marah dan mengatakan semua hal yang membuat ibu sedih, Ibu tidak tahan dengan perkataanmu dan melawannya. Ibu bilang pada bapak kalau dia terus seperti ini kalian tidak akan bisa sekolah nanti” Ibu terdiam dan hanya memandang lantai yang sedang kami duduki saat ini. Untuk beberapa saat kami seakan mengheningkan cipta mengingat semua keras kepala bapak. Aku sangat bangga pada bapak karena menjalankan perannya sebagai bapak untuk anak-anaknya begitu sungguh luar biasa. Namun untuk menjadi seorang suami, aku sangat menyayangkannya.

“Dhea, berbicaralah pada bapak. Bapak sangat menyayangi kamu. Dia pasti akan mendengarkan kamu kak”

Beberapa saat kemudian terdengar suara motor dari arah luar. Ternyata bapak sudah pulang ke rumah. Dengan wajah yang begitu merah, bapak masuk ke dalam rumah dan melihat aku dan ibu yang sedang duduk dilantai dengan mata basah.

“Kalian berdua tidurlah”

“Pak, Dhea ingin bicara pada bapak”

Bapak ikut duduk dilantai namun sedikit jauh dari kami. Aku melihat bapak menghidupkan rokoknya dan menghisapnya perlahan. Aku mendekati bapak dan menyentuh tangannya.

“Pak, Dhea tidak melarang bapak untuk merokok ataupun minum-minum. Tapi Dhea mohon pak, tolong batasi diri bapak. Saat bapak mabuk seperti ini, bapak sangat mudah mengatakan hal-hal yang menyakitkan.” Aku terdiam sejenak, aku tidak bisa lagi melihat wajah bapak karena mataku sudah buram tergenang air mata yang sejak tadi aku tahan.

“Pak, lihatlah anak-anak bapak yang sudah dewasa ini, kami sangat sedih jika bapak selalu bersikap seperti ini”

Bapak menggenggam tanganku. Ternyata bapak juga sudah menangis sedari tadi.

“Dhea maafkan bapak. Bapak hanya berpikir bahwa adik-adik bapak membutuhkan bapak. Dengan bapak memberikan mereka uang, mereka akan menghargai bapak. Bapak capek kak, sejak dulu bapak tidak pernah dianggap mereka. Percuma bapak jadi anak pertama tapi tidak ada satu pun yang mau mendengarkan bapak. Jadi bapak berikanlah uang itu pada mereka. Bapak melihat ibumu marah karena bapak berikan uang itu. Ibumu pun tidak peduli dengan perasaan bapak. Bapak bingung kak. Tapi sesaat setelah mereka pergi, bapak menyadari uang itu seharusnya untuk biaya pendidikanmu dan adikmu.”

“Pak, ibu marah bukan karena bapak memberikan uang itu pada mereka, tapi karena bapak membuat keputusan sendiri. Bapak sudah terlalu sering melakukan hal tanpa bertanya pendapat ibu. Sama seperti bapak yang bersedih merasa diabaikan oleh adik-adik bapak, ibu juga merasakan itu pak. Pak, ibu teman bapak untuk saling bertukar cerita, meskipun bapak adalah kepala keluarga tapi libatkanlah selalu ibu dalam setiap keputusan yang bapak berikan.

“Pak jika memang kita tidak punya uang, tidak perlu memaksakan diri pak, Dhea tidak usah kuliah, Dhea Ikhlas pak”. Mendengar pernyataanku bapak terlihat semakin menunduk dan terdiam.

Malam itu tidak ada lagi suara antara kami. Semua melampiaskan kesedihannya dengan tangisan yang terdalam. Tidak ada suara, tidak ada teriakan hanya air mata yang mengalir.

Keesokan harinya aku membuka mataku yang sudah bengkak dan sembab. Aku melangkah keluar dari kamar. Aku melihat-lihat ke sekeliling rumah mencari keberadaan ibu dan bapak. Aku melihat kamar tidur bapak dan ibu. Ternyata ibu masih tertidur. Aku pergi ke teras rumah berharap menemukan bapak di sana. Benar saja, bapak sedang duduk bersandar didinding dengan sebatang rokok dijarinya. Aku mendekati bapak dan duduk di sebelahnya.

“Pak…”

“Kak kamu mau tidak memasak kerang bersama bapak?”

Aku terdiam bingung, seolah bapak menyadari kebingunganku bapak memegang bahuku

“Bapak sadar, selama ini yang bapak lakukan salah, bapak sering sekali berkata kasar pada ibumu, mengambil keputusan sendiri bahkan menyalahkan ibu mu dalam banyaknya kekesalan bapak. Dhea, bapak menyadari, sekarang anak-anak bapak sudah dewasa. Bapak tidak bisa lagi bersikap seperti ini.”

Aku tersenyum, sekali lagi tanpa izinku air mata itu mengalir lagi, bapak membasuhnya dengan telapak tangannya yang besar itu dengan lembut

“Sudah berhenti menangis, lihat kamu sudah seperti baru tersengar lebah. Malu juga dilihat orang nanti”

“Iya pak”

“Kamu juga harus tetap melanjutkan kuliahmu kak, belajarlah yang rajin dan capai semua impian mu. Bapak akan ibu akan terus mendukungmu, bapak yakin Tuhan yang akan membantu kita”

“Sekarang basuhlah wajahmu yang cantik ini, kompres mata bengkak itu dengan air es, bapak akan siapkan”

Setelah beberapa saat bapak dan aku pergi ke pasar untuk membeli kerang. Kerang merupakan salah satu makanan kesukaan ibu. Kami pun memasak kerang itu dengan sangat hati-hati sambil bercanda dan tertawa. Aku mendengar suara pintu yang sedang dibuka. Ah ternya ibu sudah bangun. Aku sempat terdiam sejenak, kupandangi wajah bapak dan ibu secara bergantian. Bapak seperti memberikan kode pada ibu dengan senyuman, senyuman penuh makna yang baru pertama kali itu aku lihat di rumah ini. Ibu membersihkan diri. Setelah masakannya matang aku menyiapkan meja makan. Ibu juga terlihat sudah lebih segar setelah mandi. Aku menyiapkan hidangan lezat itu dalam piring kami. Bapak menelepon adikku yang saat ini jauh dari kami untuk belajar. Di meja makan itu, kami menikmati hidangan dengan lahap tapi tidak tergesa-gesa. 

(Karya Dian Sastra Pratama Sinaga)

Dian Sastra Pratama Sinaga
KonInTime: Dian Sastra Pratama Sinaga
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Syarat & Ketentuan Penulisan di IINC Times:

Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.

Syarat & Ketentuan Tentang IINC Times Disclaimer
Profil Resmi

Tentang IINC Times

iinctimes.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan di manapun.

Tulisan atau berita yang ada di portal ini merupakan kontribusi dari penulis lepas (freelance contributor / jurnalis warga) dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia melalui platform keterbukaan informasi publik.

PEMBERITAHUAN PENTING & WASPADA OKNUM:
Hati-hati dengan oknum yang mengatasnamakan iinctimes.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan, Kartu Pers, maupun Press ID Card dalam bentuk apa pun.

Visi & Misi

IINC Times hadir sebagai ruang terbuka dan independen untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, karya literasi mahasiswa, pemikiran akademis, serta liputan daerah tanpa batasan birokrasi yang kaku.

Pedoman & Kebijakan

Pedoman Redaksi & Ketentuan Penulisan

Setiap kontributor, penulis opini, dan pembuat konten yang mempublikasikan karya di iinctimes.com wajib menyetujui dan mematuhi syarat ketentuan redaksi berikut:

1. Hak Cipta dan Keaslian Tulisan

Semua karya yang dikirimkan harus orisinal, bebas plagiasi, dan tidak melanggar hak cipta intelektual pihak mana pun. Segala klaim hak cipta dari pihak ketiga merupakan tanggung jawab penuh penulis naskah.

2. Larangan Konten SARA, Fitnah, dan Hoaks

Konten tidak boleh memuat ujaran kebencian, diskriminasi SARA, pencemaran nama baik, pornografi, informasi menyesatkan/palsu (hoaks), maupun muatan yang melanggar ketentuan hukum di Republik Indonesia.

3. Status Kontributor (KonInTime)

Penulis adalah kontributor independen lepas. IINC Times tidak menerbitkan kartu tanda pengenal pers kepada kontributor dan kontributor dilarang menyalahgunakan nama IINC Times untuk meminta fasilitas, imbalan, atau melakukan intimidasi kepada narasumber.

4. Hak Moderasi dan Klarifikasi

Redaksi berhak menghapus, menyunting tata letak, atau membatalkan penayangan naskah yang menuai sanggahan fakta atau bertentangan dengan kode etik jurnalistik dan regulasi perundang-undangan.

Pernyataan Hukum

Penyangkalan (Disclaimer)

PEMBERITAHUAN RESMI:
iinctimes.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan di manapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia.

Hati-hati dengan oknum yang mengatasnamakan iinctimes.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers / Press ID Card.

1. Tanggung Jawab Isi Konten

Seluruh opini, naskah rilis, analisis, dan karya tulisan merupakan sudut pandang personal masing-masing kontributor. Tanggung jawab hukum atas isi tulisan berada sepenuhnya pada penulis yang bersangkutan.

2. Tujuan Informasi Umum

Materi yang disajikan di situs web ini disediakan semata-mata untuk tujuan informasi umum dan edukasi. IINC Times tidak bertanggung jawab atas segala kerugian material maupun immateriel akibat penggunaan informasi dari situs ini.

3. Tautan Eksternal

Situs ini mungkin menyertakan tautan menuju situs pihak ketiga. IINC Times tidak bertanggung jawab atas keakuratan isi atau kebijakan privasi pada situs-situs eksternal tersebut.

Layanan Redaksi

Hubungi Redaksi IINC Times

Pusat Layanan Media Komunitas • Jakarta, Indonesia
Email Layanan Redaksi & Hak Jawab: redaksi@iinctimes.com

SECURITY GATEWAY

Autentikasi Redaksi

Masukkan password & kode keamanan untuk membuka dashboard.