JAKARTA, IINC TIMES — Di zaman sekarang media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi mahasiswa. Dengan adanya smartphone, kita dapat mengakses berbagai media dalam hitungan detik. Media sosial dapat digunakan untuk berkomunikasi, mencari informasi, belajar maupun sekedar hiburan. Penggunaan media sosial dapat memberikan dampak positif dan negatif dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, penggunaan media sosial yang berlebihan / tidak terkontrol bisa membuat mahasiswa semakin sulit berkonsentrasi saat belajar.
Saya sendiri mengalami hal tersebut. Ketika saya ingin belajar sekaligus mengerjakan tugas, saya sudah menyiapkan buku di depan saya dan berniat untuk mulai mengerjakan tugas. Namun, sebelum benar-benar memulai, saya mengambil Hp dengan alasan hanya ingin melihat sebentar, tetapi saya malah membuka Tiktok dan menonton beberapa video. Kadang saya juga beralih bermain game. Tanpa saya sadari waktu yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan tugas malah habis untuk bermain Hp sementara buku yang di depan saya tidak tersentuh.
Hal yang sama juga terjadi pada malam hari. Saya pernah berniat bermain game hanya sebentar, tetapi karena saya merasa ingin tetap bermain sampai saya lupa waktu dan terus bermain hingga jam tiga pagi. Keesokan harinya saya hanya merasa pusing dan lelah bahkan saya sulit berkonsentasi untuk mengelolah informasi yang diberi dosen. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa kebiasaan menggunakan Hp sampai larut malam memiliki dampak yang tidak saya inginkan.
Menurut saya, pengalaman tersebut berkaitan dengan pembahasan literasi media dalam buku yang saya baca. Buku menjelaskan bahwa “Perkembangan teknologi dan media memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyarakat serta dapat memberikan dampak positif maupun negatif.” Karena ituliterasi media menjadi penting.
Buku tersebut juga menjelaskan bahwa “Literasi media tidak hanya berarti mampu mengakses media, tetapi juga mencakup kemampuan untuk memahami dan mengelola media yang digunakan.” Dalam pembahasan buku tersebut terdapat beberapa dimensi motivasi, pengetahuan, dan keterampilan termasuk kemampuan menganalisis dan mengkritisi media.
Menurut saya, inilah yang sering menjadi masalah bagi mahasiswa, bukan hanya mahasiswa, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya. Kita sudah mampu menggunakan media sosial tetapi belum tentu mampu mengendalikan penggunaanya. Kita tau cara membuka Tiktok, Instagram, Youtube, ataupun game, tetapi terkadang kita kesulitan untuk menentukan kapan harus berhenti. Media sosial yang seharusnya dapat menjadi sarana hiburan atau pembelajaran justru mengambil waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar dan beristirahat.
Oleh karna itu, menurut saya, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggunakan teknologi. Mahasiswa juga harus memiliki literasi media, terutama kemampuan untuk mengatur waktu, memahami tujuan penggunaan media, dan mengendalikan diri agar tidak mudah terdistraksi. Media sosial bukan sesuatu yang harus dihindari, mengapa? Karna media sosial juga bisa memberikan informasi dan manfaat. Yang paling utama adalah “Bagaiman kita sebagai pengguna dapat menggunakan media secara sadar dan bertanggung jawab.”
Media sosial tidak sesuatu yang buruk. Namun, Ketika penggunaannya tidak terkontrol, media sosial dapat menggangu waktu belajar dan waktu istirahat mahasiswa. Pengalaman sederhana seperti membuka Hp saat ingin belajar atau bermain game hingga larut malam menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan media harus seimbang dengan kemampuan mengendalikan penggunaannya. Hal tersebut sejalan dengan gagasan media literasi media dalam buku “Bahwa pengguna media perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memahami serta mengelola media yang digunakan”
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













