JAKARTA, IINC TIMES — Bagi sebagian orang, mengenalkan kecerdasan buatan cukup dengan menjelaskan bagaimana teknologi itu bekerja. Namun, Rossy Safitri Putra Pratama justru menemukan cara berbeda: membuat orang langsung mencoba dan merasakan manfaatnya.
Gagasan tersebut berawal dari pengalaman Rossy saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat itu, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut mengenalkan AI dan Gemini kepada pelajar SMP dan SMA untuk membantu kebutuhan yang dekat dengan keseharian mereka, mulai dari membuat konten promosi sekolah hingga mengembangkan visual untuk kegiatan ekstrakurikuler.
Pengalaman itu kemudian membawanya pada satu pemikiran: AI akan lebih mudah dipahami ketika seseorang tidak hanya diberi tahu manfaatnya, tetapi langsung menggunakannya untuk menyelesaikan sesuatu.
Pemikiran tersebut kini dibawa Rossy ke lingkungan kampus setelah dirinya terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026 Batch 2, melalui gagasan yang diberi nama GEMA (Gemini untuk Semua).
Seleksi tersebut diikuti lebih dari 300.000 pendaftar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Di tengah tingginya antusiasme tersebut, Rossy membawa pendekatan yang tidak berhenti pada pengenalan teknologi, melainkan mendorong mahasiswa menghasilkan karya secara langsung.
Melalui GEMA, Rossy memperkenalkan konsep “One Hour, One Creation” atau satu jam, satu karya.
Konsepnya sederhana. Peserta tidak datang hanya untuk mendengarkan pemaparan mengenai Gemini. Mereka justru membawa satu kebutuhan nyata yang sedang dikerjakan, kemudian mengembangkan kebutuhan tersebut dengan bantuan Gemini dalam waktu satu jam.
“Kebutuhan itu bisa berupa konsep promosi acara, ide konten organisasi, maupun gagasan untuk kegiatan kampus,” ujar Rossy.
Selama sesi berlangsung, mahasiswa diarahkan untuk mengubah ide tersebut menjadi sesuatu yang lebih konkret. Dengan begitu, pengalaman menggunakan AI tidak berhenti sebagai pengetahuan baru, tetapi menghasilkan karya yang dapat langsung digunakan.
Bagi Rossy, pendekatan praktik menjadi penting karena teknologi sering kali terasa jauh ketika hanya diperkenalkan melalui teori.
Ia ingin mahasiswa melihat AI bukan sekadar sebagai teknologi yang sedang berkembang, melainkan sebagai alat yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai aktivitas mereka di kampus.
“Menurut saya, cara terbaik mengenalkan teknologi bukan dengan mengatakan bahwa teknologi itu bermanfaat, tetapi dengan membiarkan orang merasakan sendiri manfaatnya,” ujarnya.
Pengalaman ketika KKN menjadi titik penting dalam lahirnya gagasan tersebut. Dari berinteraksi langsung dengan pelajar dan melihat bagaimana teknologi dapat membantu mereka menghasilkan sesuatu, Rossy kemudian membawa pendekatan serupa ke lingkungan mahasiswa.
Kini, melalui perannya sebagai Google Student Ambassador 2026 Batch 2, gagasan tersebut mendapatkan ruang yang lebih luas untuk dikembangkan.
Lewat GEMA, Rossy ingin mengajak lebih banyak mahasiswa untuk tidak sekadar mengenal Gemini, tetapi mencoba menggunakannya untuk menjawab kebutuhan nyata yang mereka hadapi.
Dari KKN, sebuah pengalaman sederhana berkembang menjadi sebuah gagasan. Dari gagasan itu, Rossy kini membawa pesan yang lebih besar: teknologi akan terasa berarti ketika seseorang benar-benar menggunakannya untuk menciptakan sesuatu.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













