JAKARTA, IINC TIMES — Kalau kita bicara soal sekolah, jujur saja, bayangan kita sering kali langsung tertuju pada deretan bangku kelas, buku tebal, atau anak-anak yang sibuk belajar membaca dan berhitung. Padahal, kalau kita mau jujur melihat lebih dalam, pendidikan anak usia dini itu jauh lebih luas dari sekadar urusan calistung. Ini tentang melihat senyum kecil saat mereka belajar berbagi mainan, gelak tawa di halaman, dan ketulusan luar biasa dari para guru yang telaten mendampingi mereka setiap hari. Di tengah dunia yang serba cepat dan canggih seperti sekarang, ada satu hal penting yang sering bikin saya kepikiran: bagaimana nasib rasa cinta tanah air anak-anak kita ke depannya?
Jujur, menanamkan jiwa nasionalisme ke anak-anak kecil itu jelas tidak bisa disamakan dengan cara kita mengajari orang dewasa. Kita tidak mungkin kan, menyuruh anak balita menghafal deretan sejarah yang kaku atau teori kenegaraan yang berat? Rasanya sama sekali tidak nyambung dengan dunia mereka. Makanya, bagi saya, menumbuhkan rasa cinta tanah air di usia dini itu kuncinya ada pada pembiasaan yang menyenangkan. Peran guru PAUD di sini benar-benar jadi garda terdepan yang luar biasa. Di masa-masa golden age ini, anak-anak itu seperti spons; mereka menyerap apa pun yang mereka lihat dari orang-orang di sekitarnya. Jadi, alih-alih ceramah panjang, nasionalisme diajarkan lewat hal-hal kecil yang dekat dengan keseharian mereka. Misalnya, seru-seruan menyanyikan lagu daerah bareng di kelas, mengenalkan baju adat yang warna-warni, atau belajar menghormati bendera sambil bermain. Sederhana, tapi dampaknya luar biasa melekat di hati mereka. Meskipun kedengarannya seru, tantangan di lapangan jujur saja tidak mudah. Sebagai guru atau orang tua hari ini, kita berhadapan langsung dengan gempuran era digital. Anak-anak sekarang lebih akrab dengan gawai, lebih hafal lagu-lagu asing dari internet, atau kenal tokoh kartun luar negeri ketimbang permainan tradisional dan cerita rakyat kita sendiri. Kalau kita tidak pintar-pintar menyikapinya, pelan-pelan anak-anak kita bisa asing dengan budaya dan identitas bangsanya sendiri.
Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita para pendidik bisa mengemas nilai-nilai kebangsaan ini agar tetap menarik, asyik, dan masuk ke dunia mereka tanpa terkesan menggurui. Makanya, kalau dipikir-pikir, bekal kuliah kita di jurusan pendidikan kewarganegaraan dan PAUD itu penting banget. Kita disadarkan bahwa guru PAUD itu bukan cuma pengajar, tapi pembentuk akar moral bangsa. Bayangkan, ketika seorang anak dari kecil sudah diajarkan untuk merangkul temannya yang berbeda suku tanpa rasa canggung, di situlah sebenarnya benih-benih kebhinekaan mulai tumbuh subur. Tentu saja, proses ini menuntut kesabaran tingkat tinggi dan kreativitas tanpa batas dari seorang guru. Tapi ya, jujur saja, usaha ini tidak bakal maksimal kalau hanya dibebankan ke pundak guru di sekolah saja. Peran orang tua di rumah itu kuncinya. Sekolah dan rumah harus jalan bareng. Bayangkan betapa indahnya kalau di rumah, orang tua juga ikut andil misalnya membiasakan anak mendengarkan cerita pahlawan sebelum tidur, membiasakan bertutur kata yang santun, atau sesekali mengajak mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Kalau rumah dan sekolah punya visi yang sama, anak-anak pasti tumbuh dengan akar kebangsaan yang kuat di dalam dada mereka.
Pada akhirnya, saya jadi makin yakin bahwa impian besar kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga keutuhan Indonesia itu tidak dimulai dari gedung-gedung pemerintahan yang megah. Semuanya berawal dari ruang-ruang kelas PAUD yang sederhana, dari tangan-tangan sabar para guru yang tulus mencurahkan kasih sayangnya. Karena dengan menanamkan cinta tanah air sejak dini, kita sedang memastikan anak-anak kita tidak akan kehilangan arah di tengah dunia digital yang tanpa batas ini, melainkan tumbuh menjadi generasi yang bangga dan siap membangun Indonesia jadi lebih baik.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













