JAKARTA, IINC TIMES — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan mengelola keuangan, termasuk dalam pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan. Melihat peluang tersebut, Ernst & Young (EY) Amerika Serikat menjalin aliansi strategis dengan Rillet, perusahaan penyedia platform enterprise resource planning (ERP) dan akuntansi berbasis AI. Kerja sama yang diumumkan pada 29 April 2026 ini bertujuan membantu perusahaan memodernisasi fungsi keuangan melalui teknologi, transformasi bisnis, manajemen risiko, dan pengendalian internal.
Aliansi ini menyasar perusahaan yang berkembang dari tahap startup menuju initial public offering (IPO). Seiring pertumbuhan bisnis, sistem pengelolaan keuangan juga menjadi semakin kompleks. Sistem ERP yang sebelumnya memadai dapat menghadapi berbagai kendala, seperti data yang tersebar, ketergantungan pada spreadsheet, teknologi yang tertinggal, dan proses pencatatan manual. Kondisi tersebut dapat memperlambat penutupan buku, membatasi akses informasi secara real-time, serta memperpanjang persiapan audit. Karena itu, EY dan Rillet menawarkan pendekatan yang menggabungkan modernisasi teknologi dengan perbaikan proses bisnis, tata kelola, risiko, dan pengendalian internal.
Rillet mengembangkan platform ERP berbasis AI yang dirancang untuk memproses data secara real-time. Berbeda dengan sistem ERP konvensional yang menambahkan AI pada infrastruktur lama, Rillet membangun general ledger (GL) dari awal agar AI dapat terintegrasi langsung dengan proses akuntansi. Sistem ini juga dilengkapi full audit trail sehingga aktivitas dapat ditelusuri. Teknologi tersebut mendukung berbagai proses keuangan, seperti pencatatan jurnal, rekonsiliasi, pengakuan pendapatan, penutupan buku, hingga pelaporan keuangan. Otomatisasi ini dapat mengurangi pekerjaan administratif dan memungkinkan tim keuangan lebih fokus pada analisis serta pengambilan keputusan.
Dalam kolaborasi tersebut, EY membawa pengalaman lebih dari 100 tahun dalam transformasi keuangan serta keahlian di bidang teknologi, risiko, dan pengendalian. EY membantu perusahaan menyelaraskan penerapan teknologi dengan model operasional, tata kelola, dan kebutuhan pengendalian. Kolaborasi ini juga diperkuat dengan bergabungnya Colm Sparks-Austin dan Kapish Vanvaria, dua pemimpin EY, ke dalam Rillet Advisory Board. Menurut Michael Flynn, EY-Rillet Alliance Leader di EY US, keunggulan aliansi tersebut terletak pada integrasi manajemen risiko dan pengendalian sejak awal proses transformasi.
Perkembangan Rillet semakin menarik perhatian setelah perusahaan mengumumkan pendanaan Seri C sebesar US$100 juta pada Agustus 2026. Pendanaan tersebut mendorong valuasi perusahaan mencapai US$1 miliar dan menjadikannya startup berstatus unicorn. Pencapaian ini menunjukkan besarnya perhatian terhadap potensi teknologi AI dalam mengubah proses bisnis, termasuk di bidang akuntansi dan pengelolaan keuangan.
Meningkatnya penggunaan AI dalam fungsi keuangan juga membawa perubahan terhadap kebutuhan tenaga profesional, termasuk auditor. Otomatisasi dapat mempercepat pengolahan data dan mengurangi pekerjaan rutin, tetapi tetap memiliki risiko, seperti kesalahan pemrosesan data, kelemahan algoritma, akses sistem yang tidak tepat, dan ketergantungan berlebihan pada hasil AI. Karena itu, sistem dengan rekam jejak aktivitas dan pengendalian yang memadai menjadi semakin penting.
Bagi profesi auditor, perkembangan ini bukan berarti teknologi akan sepenuhnya menggantikan peran manusia. Auditor justru perlu menyesuaikan kompetensinya dengan perubahan lingkungan bisnis. Selain memahami laporan keuangan dan prosedur audit, auditor perlu memahami sistem informasi akuntansi, mengevaluasi pengendalian otomatis, serta mengidentifikasi risiko yang muncul dari penggunaan AI. Skeptisisme profesional juga tetap diperlukan agar auditor tidak menerima hasil pemrosesan sistem begitu saja.
Kolaborasi EY dan Rillet memperlihatkan bahwa masa depan fungsi keuangan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko dan menjaga keandalan informasi. Bagi dunia akuntansi dan audit, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa adaptasi terhadap teknologi perlu diimbangi dengan peningkatan kompetensi, pengawasan, dan pengendalian. Dengan demikian, AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengesampingkan akurasi, transparansi, dan akuntabilitas.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













