JAKARTA, IINC TIMES — Kecerdasan pada anak tidak datang secara tiba-tiba, apalagi seperti sulap atau sihir. Menurut saya, seorang anak dididik melalui latihan yang cermat sedemikian rupa sehingga jejak ia dilahirkan hingga usia tuanya, pada masa hidup ini ia belajar hal-hal dengan mengingatkan dan mengalami masa lalunya. Jika demikian, maka pengalaman belajar dalam pendidikan anak usia dini harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang sedang mereka jalani. Karena itu, pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki peran penting dalam memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya tertuju pada membaca, menulis, berhitung (Calistung), tetapi juga perlu mendorong kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan berkomunikasi serta kemandirian pada anak. Aktivitas bermain seperti membangun balok secara kolaboratif, membuat permainan menggunakan media losse parts, menyelesaikan puzzle, atau merangkai cerita melalui boneka, pada dasarnya merupakan sarana efektif yang memberikan kontribusi signifikan bagi tumbuh kembang anak secara holistik. Anak mungkin terlihat sedang bermain, padahal mereka sedang belajar berinteraksi sosial, berbagi peran, berimajinasi dan mencari jalan keluar dari tantangan sederhana.
Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, kontribusi PGPAUD dapat terlihat. Pendidik yang mengerti keunikan serta kebutuhan anak dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan berkesan, sembari menstimulasi berbagai aspek perkembangannya. Namun pada kenyataannya sebagian besar masih menyamakan kecepatan dengan kecerdasan ketika berbicara tentang kemampuan seorang anak dalam membaca, menulis, dan berhitung. Anak yang berani menyampaikan pendapat, mampu bekerja sama, memiliki rasa ingin tahu, dapat menyelesaikan masalah sederhana dan mampu mengungkapkan perasaannya juga menjadi bagian penting dalam perkembangan anak. Oleh karena itu, pembelajaran PAUD seyogianya memfasilitasi ruang bagi anak untuk berkembang secara holistik, tidak hanya berfokus pada pencapaian akademis semata. Para pendidik tidak hanya harus mengetahui materi yang mereka ajarkan, tetapi juga memiliki metode yang efektif untuk mengomunikasikan informasi tersebut sesuai dengan tahap perkembangan atau usia tertentu dari anak. Melalui pembelajaran yang adaptif, mereka dapat menikmati proses belajar lewat pengalaman yang interaktif tanpa harus tertekan oleh target untuk menguasai kemampuan tertentu terlalu cepat.
Selaku mahasiswa program studi PGPAUD, saya mencermati bahwa keterlibatan PGPAUD dalam mencerdaskan bangsa dapat dimulai dari hal yang terdekat dengan keseharian anak, salah satu bentuknya yaitu melalui dunia bermain. Pendidik tidak hanya berperan dalam memberikan pengetahuan saja, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan sehingga anak dapat bereksplorasi, belajar melalui bermain serta berkembang selaras dengan potensi yang dimilikinya. Ketika anak diberi kesempatan untuk bermain, menuangkan imajinasinya, belajar bersosialisasi dan bekerja sama, mereka sedang membangun fondasi penting bagi masa depan mereka. Hal inilah yang menunjukkan bahwa kontribusi PGPAUD tidak hanya dapat dipandang sebagai kegiatan pembelajaran di lingkungan PAUD, tetapi juga sebagai bagian dari proses mempersiapkan generasi bangsa sejak usia dini. Jadi, tidak ada sulap dan tidak ada sihir. Kecerdasan anak tidak dibangun secara instan, melainkan tumbuh dari proses belajar yang tepat, lingkungan yang penuh dukungan, serta pendidik yang memahami kebutuhan tumbuh kembangnya.
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini, atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di IINC Times.













